KETELADANAN KUNCI SUKSES PENDIDIKAN KARAKTER

Penulis : M.Ichsan Surya Gunawan,S.Pd

Pendidikan Karakter adalah pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.(Aksi Nasional Pendidikan Karakter)

 Pembangunan karakter merupakan kebutuhan asasi dalam proses berbangsa dan bernegara.  Sejak awal kemerdekaan, bangsa Indonesia sudah bertekad untuk menjadikan pembangunan karakter bangsa sebagai bagian penting dan tidak terpisahkan dari pembangunan nasional.

 Menyadari kondisi karakter masyarakat saat ini, pemerintah mengambil inisatif untuk mengarusutamakan pembangunan karakter bangsa. Hal itu tercermin dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, yang menempatkan pendidikan karakter sebagai misi pertama dari delapan misi guna mewujudkan visi pembangunan nasional.  Dalam berbagai kesempatan Presiden Republik Indonesia juga mengemukakan pentingnya pembangunan watak (character building), karena kita ingin membangun manusia yang berakhlak, berbudi pekerti dan berperilaku baik.


Pengaruh Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

 Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

 Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter.

 

Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri, akan menimbulkan stress berkepanjangan. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. Maka, tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran, terlibat kriminalitas, putus sekolah, dan menurunnya mutu lulusan SMP dan SMU.

Keteladanan  Kunci Sukses Pendidikan Karakter

Manusia memerlukan keteladanan  yang mampu mendorong kreatifitas,kerjasama dan inovasi, namun pada masa global sekarang ini rasa-rasanya semakin sulit menemukan sifat keteladanan yang terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari, karena setiap media, apakah cetak, elektronik, visual maupun virtual menyuguhkan berbagai informasi yang negatif, yang tidak bisa dicontoh generasi masa kini, malah sudah menjadi brand image bahwa setiap media yang paling cepat menyuguhkan berita KKN, pembunuhan, pemerkosaan, korupsi,Operasi Tangkap Tangan,penipuan ataupun kejahatan lainya dianggap paling ngetop,

 Mengapa banyak orang pinter di negeri ini menjadi keblinger? Apa yang menyebabkan mereka seperti itu? Pintar tetapi tersesat jalan. Pendidikan macam apa yang telah mereka lalui sehingga otak lebih dominan ketimbang watak. Pasti ada yang salah dalam implementasi pendidikan watak. Kesalahan itu mudah saja dilihat karena minimnya pendidikan keteladanan.

 Pendidikan watak hanya menjadi sebuah teori yang miskin aplikatif. Keteladan menjadi barang mahal di era persaingan global. Takwa menjadi kata yang mudah diucapkan tetapi sulit dijalankan. Kita pun menjadi orang yang munafik. Seolah-olah kita telah menjadi seorang ustadz yang bijaksana di kampung yang taK bermoral.

 Urgensi Pendidikan dimulai dari manusia dilahirkan dari rahim ibundanya. Seorang anak bagaikan kertas putih yang siap dituliskan isinya. Orang tuanyalah yang akan membentuk karakter atau watak anaknya. Oleh karenanya pendidikan keluarga adalah pendidikan yang sangat penting di dalam frase pertumbuhan anak. Bila pendidikan dalam keluarganya baik, maka ketika sang anak berhadapan dengan lingkungan sekitarnya akan berusaha untuk menyampaikan kebaikan. Hati nuraninya akan berontak ketika ada sesuatu yang tak sesuai hati nuraninya. Di situlah sebenarnya peran penting ayah dan ibu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Tak salah bila kitab suci selalu mengingatkan, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.

 Ketika pendidikan keluarga telah berjalan baik, maka ada jenjang pendidikan formal yang harus mereka lalui. Orang banyak biasa menyebutnya sekolah. Di jenjang sekolah itulah pendidikan harus berjalan baik, dan sesuai dengan defenisi di mana peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki:

1. Kekuatan spiritual keagamaan,

2. Pengendalian diri,

3. Kepribadian,

4. Kecerdasan,

5. Akhlak mulia,

6. Keterampilan

 Keenam hal di atas tampak jelas bahwa tujuan bersekolah seharusnya sesuai dengan definisi pendidikan yang sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003. Namun dalam kenyataannya seperti jauh panggang dari api. Banmyak sekolah belum menghasilkan peserta didik yang secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

 Mengapa? Karena banyak dari pendidik tak menguasai konsep dasar dari pendidikan itu sendiri. Bahkan banyak guru yang belum mampu memberikan contoh atau teladan yang baik dari tujuan bersekolah. Janganlah heran bila kita lebih mudah melahirkan generasi yang berotak cerdas daripada generasi yang berwatak cerdas. Cerdas otak tanpa disertai cerdas watak akan melahirkan generasi keblinger seperti apa yang dikhawatirkan oleh pengamat pendidikan Mochtar Buchori.

 Sekarang saatnya kita mulai melakukan instrospeksi diri yang dimulai dari diri sendiri. Coba tanyakan kepada diri apakah pendidikan watak telah sampai ke otak dan hati nurani kita? Bila pendidikan watak lebih dominan, maka hati tak akan rusak oleh gemerlapnya kehidupan dunia yang fana ini. Dia tak akan pernah korupsi atau berbuat curang karena kekuatan spiritual keagamaan telah bersemi di dalam hati orang yang mengaku telah beragama dan menyembah Tuhannya.

 Pribadi yang unggul dan mandiri akan menjadi pribadi yang cerdas karena berakhlak mulia. Akhlak mulia inilah yang harus benar-benar nyata dikembangkan kepada para peserta didik dengan keteladanan (orang tua, guru, masyarakat lingkungan, perilaku elit politik dan pemerintahan, serta tayangan TV), semua harus besenergi.

 Keteladanan telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW bagi mereka yang menganut agama Islam. Sifat Sidiq, Tabligh, Amanah, dan Fathonah akan tercermin dari peserta didik manakala pendidik atau guru di Indonesia menyadari bahwa sifat kenabian harus dicontohkan, dan bukan hanya sekedar teori yang dihafalkan. Dia memerlukan tindakan nyata dan bukan sebatas kata-kata.

 Pentingnya keteladanan ini bisa disenergikan dengan sebuah kata bijak. Semut di seberang lautan tampak, tetapi gajah di pelupuk mata tak tampak. Seringkali kita menyalahkan orang lain, dan menganggap diri sendiri lebih hebat daripada orang banyak. Bila kita memang orang hebat, tunjukkanlah keteladanan sebab dengan keteladanan saat ini masih hanya sebatas slogan. Satu kata antara perkataan dan perbuatan menjadi sesuatu yang mustahil terlihat kalau kita sebagai orang dewasa tak mampu memberikan keteladanan. Urgensi pendidikan harus mengantarkan peserta didik menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas otak, tetapi juga watak. Tak salah kiranya bila pendidikan watak atau karakter sudah harus kita benahi di sekolah-sekolah kita.

 Disekolah, guru harus menjadi teladan

Keteladanan orang tua akan lebih baik dan efektif dalam mendidik anak-anak dibandingkan dengan petuah atau nasihat demikian kata-kata bijak bisa kita dapatkan. Keteladanan orang tua bisa terjadi di rumah untuk mengisi masa belajarnya maupun keteladanan di sekolah.

 Dalam proses pembelajaran seorang pendidik memiliki peran penting dalam menyukseskan keberhasilan dalam pembelajaran. Mendidik tidak hanya sekedar memenuhi prasyarat administrasi dalam proses pembelajaran, tetapi perlu totalitas. Artinya ada keseluruhan komponen yang masuk di dalamnya. Lebih khusus lagi adalah kepribadian seorang guru.

 Kepribadian seorang guru sangatlah penting terutama di dalam mempengaruhi kepribadian siswa. Karena guru memiliki status seseorang yang di anggap terhormat dan patut dicontoh. Selain itu, guru adalah seorang pendidik. Pendidikan itu sendiri memiliki arti menumbuhkan kesadaran kedewasaan.

 Perilaku guru di sekolah merupakan cermin yang senantiasa menjadi panutan siswa, sebagai contoh kecil saja, sekolah yang ingin mengembangkan karakter disiplin bagi semua warga sekolah tapi  tidak jarang guru mencontohkan datang ke sekolah, masuk kelas, keluar kelas, serta ketentuan jam pulang sebagai PNS tidak memberikan teladan yang baik, kondisi yang bertentangan dan ketidakmampuan sebagai teladan  akan sangat berbekas di hati para siswanya, dan sebenarnya masih banyak pengembangan karakter lainnya yang sulit menjadikan guru menjadi teladan. Ini masalah kita semua.

 Masalah keteladanan disebutkan dalam hadis nabi. “Barang siapa yang memberikan contoh baik, maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang yang mengikuti hingga hari kiamat, yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikit pun. Dan barang siapa yang memberi contoh buruk, maka baginya dosa atas perbuatannya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa dikurangi sedikit pun dosa orang-orang yang mengikutinya.” (HR Imam Muslim).

 

 

* Penulis adalah Guru MTs Swasta Bustanul Huda Kota Langsa